Pekerjaan Pertama
Curhat hihi..........;)
Febi
-> 29/10/2018 , Keona Embroidery.
Mungkin hidup ini seperti
instrumen musik yang tak selamanya memiliki tempo slow, juga tak selalu cepat.
Pasti akan ada jeda dimana kita diizinkan untuk memikirkan suatu hal yang
membuat Kita sadar, bahwa hidup ini tak akan lama. Seperti halnya Mentari yang
tak lebih dari 11/12/13 jam untuk menampakkan dirinya. Kita pun tak akan lama
berada diatas.
Mungkin hari ini semuanya
baik-baik saja. Tapi bagi Orang yang tidak teliti seperti Saya, pasti akan
melakukan kesalahan lagi. Tiada omelan, tiada oceran gurih yang Saya dapat hari
ini, bukan berarti hari esok tak ada omelan dan ocehan itu lagi. Yang terbayang
dalam benak Saya adalah wajah marah Boss yang menakutkan itu membuat perasaan
Saya menciut dan rasa ingin menyerah menyergap pada saat itu.
3 bulan berada disini bukan
hal yang mudah bagi Lulusan Premature semcam Saya. Tekanan mental dan suasana
keras dihadapi dalam tempo singkat tanpa ada persiapan atau pelatihan sebelumnya.
Boss tidak sebaik Guru Kita yang akan
sabar dalam menghadapi bebalnya otak Kita, ia pula tak sesabar Guru Kita saat
Kita melakukan kesalahan.
Yang perlu Kita lakukan
hanya satu. Belajar....dan jadilah pelajar sejati.
Febi
-> 30/10/2018 , Keona Embroidery.
Pagi ini cerah yah? Tapi
nggak secerah suasananya. Pagi-pagi ada aja yang salah, akhirnya buat Boss bad
mood, yang lainnya juga kena tuh.
Saya kadang berfikir bahwa
Boss sebenernya baik. Dan benar saja, ketika Saya tanya temen-temen Sekolah, Boss mereka lebih parah dari ini. Tapi pagi
ini, anggapan itu kembali kabur. Saya berkata pada diri, “You can see....dia marah lagi.” Huft....tapi
beneran, Boss Orangnya baik, walaupun pelit :D. Mungkin temperamennya memang gak
baik, Orangnya keras dan senjatanya bentakkan.
Ini adalah tempat pertamaku
bekerja. Selain bentakkan, ocehan dan gerutuan dari keluarga, teman sekolah dan Tetangga, ini
adalah tempat pertamaku juga untuk menempa diri.
Belum lama ini ketika Aku
menghancurkan tatanan Kas kecil, Boss memarahi Saya, ia membanting semua kertas
nota Bulan September dihadapan Saya. Saya terkejut dan ingin menangis tapi
tidak bisa. Sudah biasa bagi Saya mendapat bentakkan dan kata-kata kasar
seperti yang Boss alamatkan pada Saya. Tapi jujur, Saya terkejut dan langsung
Baper.
Hampir 1 minggu Saya
merenunginya, sampai-sampai malam minggu Saya berusaha lembur untuk
menyelesaikannya. Tapi Saya salah....
Boss benar, harusnya Saya
pulang dan istirahat untuk merefrees otak agar paginya Saya bisa menyelesaikan
pekerjaan Saya. Tapi tetap saja, semua sudah berlalu dan sekarang Saya sudah
mulai bisa memanage diri. Memanage hati, diamana Saya harus bisa menyediakan
saringan bagi otak Saya. Semua yang Boss lakukan adalah pelajaran dan nasihat
bagi diri Saya yang miskin akan ilmu. Ngomong-ngomong, dia kan Dosen.
Hahaha......
Oke cukup, ada kata mutiara
lagi hari ini Guys and Sis. “Semua Orang diciptain baik oleh Tuhan, hanya saja
Manusianya yang pikirannya kemana-mana. Di Dunia ini Cuma ada 2 type orang,
bukan Orang baik dan jahat. Tapi Orang yang memberi ilmu atau Orang yang
memproses. Dan Saya adalah Orang yang memproses kalian.” Boss XXXXX.
Walaupun ada yang tidak
Saya setujui dari kata-kata Boss, nggak masalah. Akan Saya jadikan bekal
kata-kata mutiara itu, hehe...
Febi
-> 07/11/2018 , Keona Embroidery.
Kadang Orang yang sering
mengajak Kita tertawa adalah Orang yang justru sering meremehkan Kita. Seperti
filosofi jawa yang ditandai dengan keris yang diletakkan dibelakang. Menusuk
dari belakang istilahnya.
Febi
-> 14/11/2018 , Keona Embroidery.
Saya nggak tau siapa saja
yang menganggap Saya bodoh disini. Mungkin ini akan jadi alasan untukku kuliah,
agar Aku jadi Orang hebat nantinya.
Saya sudah mencoba bertahan disini, namun nggak
bisa Saya selalu bergantung dengan yang lain sementara mereka punya pekerjaan
sendiri untuk dikerjakan. Terutama dalam hal pertanyaan, gak semua pertanyaan
Kita terjawab, semuanya terbatas. Ya kan?
Mungkin pemikiranku masih
sangat dangkal, haruskah Saya menyerah saja? Saya sangat tidak betah.
Febi
-> 08/12/2018, Keona Embroidery.
Aku memiliki 2 benda, yang
satu pisau dan yang satu lagi adalah pedang. Namun Aku belum bisa menggunakan
Pedang dibandingkan Pisau yang sudah kukuasai penggunaannya. Kebenaran yang Aku
tahu adalah ketika Aku tak bisa menggunakan Pedang namun masih memaksakan
penggunaan Pedang tersebut, ia akan membunuh diri sendiri. Banyak keraguan
beribu pilihan namun segenggam kemampuan. Beban yang terpikul bukanlah
keinginan namun harus kubawa hingga mati.
Mungkin banyak sekali
rintang dan halang yang menghadang sebuah perjalanan walau mulus tanpa kerikil.
Namun disanalah Aku menyadari sebuah keindahan dari kehidupan yang keras ini. Aku
mampu, mampu melaluinya karena hidup indah karena Aku punya Islam milik Allah
SWT.
Aku beruntung bertemu Islam
yang sesungguhnya indah dari sudut pandang Islam yang Kaffah. Walau stigma
negative terus menggerogoti kepercayaan diri seluruh pribadi Muslim di Dunia.
Aku sudah tak terpengaruh atau silau akan kenyataan bahwa di zaman Kapitalis
ini Manusia yang berhasil kebanyakan adalah non Muslim.
Saya tidak memiliki kuasa
untuk menepis itu, namun kenyataan yang lebih pahit adalah.... kebanyak dari
Orang yang berhasil itu tak menemukan sebuah kebahagiaan walaupun ia memiliki
kesenangan yang melimpah dengan hartanya. Semua yang ia inginkan bisa didapat
namun tidak dengan kebahagiaan yang bersumber dari pihak internl setiap pribadi
Manusia. Tak bisa dibeli dengan lembar kertas bernama uang dan tidak pula bisa
dibeli dengan rasa yang bernama cinta.
Namun kebahagiaan hanya
bisa diraih oleh sebuah ketenangan yang bersumber dari diri yang mengalir
dengan ketaatan pada Tuhan yang satu, yaitu Allah SWT. Mungkin Kita tak bisa
melihat wujud Tuhan, namun batas akal dan mata Kita tak bisa menembus wujudnya,
melainkan hanya bisa menerima cinta melimpah melalui pihak eksternal dalam diri
yaitu Tanda-tanda kekuasaan Allah SWT.
Aku bangga dengan Islam,
Aku bangga dengan apa yang kumiliki kini dan Aku bangga mencintai Islam sebagaimana
Allah SWT mencintai seluruh Makhluk-Nya.


Komentar
Posting Komentar