*//Toga Yang Diimpikan//*
_Oleh : Aubi Atmarini Aiza (Novelis Fikis)_
2 hari terakhir ini, banyak berseliweran foto para wisudawan yang memenuhi beranda FBku. Hal yang selalu kuimpikan sampai detik ini adalah bisa memakai Toga dikepalaku, tersenyum kearah kamera kemudian menyanding orang tuaku untuk berfoto bersama. Sudah 1 tahun lalu aku lulus, namun belum juga ada harapan untuk kuliah. Skenario Allah SWT itu selalu berbeda dan selalu menciptakan kejutan yang tak terduga. Kadang apa yang kita kejar mati-matian bukanlah jalan yang baik bagi kita. Aku sendiri sudah 2 kali gagal mengikuti SBMPTN, lantaran biaya transportasi untuk menuju panlok tempat tes dilaksanakan. Kurangnya dukungan dan pendidikan keluarga juga berpengaruh dalam hal ini. Namun semua itu masih belum melunturkan keinginan dan harapanku untuk kuliah.
Almarhum ayahku selalu menghembuskan bisikan-bisikan kuliah dimasa lalu sebelum beliau wafat. Setiap liburan semester dulu waktu SD ia sering membawaku keliling gedung-gedung UGM di jogja. Yah, ia bekerja sebagai tukang masak di warung padang di daerah Condong catur. Gedung-gedung fakultas di UGM memang terpisah tempatnya, yang ada di condong catur kalau tidak salah fakultas ilmu sosial dan hukum, sangat dekat dengan warung padang tempat bapakku kerja dulu. Terakhir tahun 2015 lalu, aku mengunjungi jogja warung padang tempat ayahku kerja sudah gulung tikar alias bangkrut. Namanya Bunga Minang, dan sekarang hanya menjadi bunga kenangan mengingat rasa masakan ayahku yang super duper enak.
Bertempatan dekat dengan daerah kampus terbaik di Indonesia, membuat ayahku memiliki banyak kenalan mahasiswa UGM, juga karena seringnya mengantar pesanan nasi padang ke gedung UGM ia memiliki kenalan beberapa Profesor dan Dosen. Aku baru tahu setelah 2 tahun ayah meninggal dari cerita ibuku, ah.... Aku merasa bahwa ayah begitu beruntung bisa mengenal orang-orang pintar disana. Ayahku juga berdagang pulsa didepan warung padangnya, usahanya memang begitu mengagumkan, hingga ia mendapati rahasia anak UGM dari seorang mahasiswa asli Sumatra yang menjadi penjual tugas bagi teman-temannya di kampus. Ia sering mengerjakan tugas teman-temannya dengan tafir yang ditentukan, biasanya yang membeli tugas padanya adalah anak-anak pejabat atau anak-anak pengusaha yang tidak niat kuliah, hanya sebagai formalitas menjadi anak seorang terpandang.
Setiap liburan itulah, ayah mengajak ibu dan aku berkeliling gedung-gedung UGM, dari fakultas ilmu sosial dan hukum, sampai ke fakultas kedokteran yang bersebrangan dengan RS Sardjioto Yogjakarta. Ugh.... Masa-masa itu tak bisa hilang untuk menjadi kenangan super manis dan romantis bersama ayah dan ibuku dimasa kanak-kanakku. Ayah selalu meniupkan profokasi untuk kuliah. "Feb.... Besok kamu kuliahnya disini(UGM) yah?" suaranya bahkan masih terngiang ditelingaku, harapannya begitu besar pada anak sulungnya ini.
Tapi nyatanya, aku malah mengecewakannya. Hari ini, aku bahkan tak bisa tembus SBMPTN dan masih bekerja di konter dengan gaji yang pas-pasan. Nilai-nilaiku sangat pas-pasan dengan rata-rata 7 dan nilai matematika dibawah standar 5. Apalah yang bisa dibanggakan dari anakmu ini ayah... Kau pergi dengan menumpuk harapan padaku yang tak bisa apa-apa ini. Cita-cita setinggi langit pun harus jatuh ketanah. Tapi aku tak bisa membiarkan begitu saja, masih banyak kesempatan dan harapan walau harus masuk di kampus swasta.
Toga yang ada di beranda FB seperti memanggil-manggil ingin ku pakai. Aku hanya ingin menjadi contoh bagi keluargaku. Dalam keluargaku memang belum ada yang berhasil memakai Toga lantaran pemikiran mereka yang cukup kolot tentang pendidikan. Aku saja diharuskan bekerja setelah lulus SMK dan menghasilkan uang banyak. Ayolah, uang adalah raja dalam sistem kapitalis ini termasuk kuliah. 75% hambatan pendidikan di negeri ini adalah uang. Tapi tentu hal itu bukan penghalang utama bagiku, yang kuyakini ini hanyalah soal waktu. Waktu yang akan mengantarkanku pada pencapaian itu.
Toga yang semua menjadi mimpi, aku yakin bukanlah mimpi abadi. Mimpi yang sekarang menjadi mimpi adalah yang akan aku tapaki nanti. Ini hanya soal waktu, bersabarlah wahai diri. Suatu hari nanti, Toga dalam mimpi akan menjadi Toga dalam kenyataan. Dan aku pasti bisa menggapainya. Dengan tekad dan usaha hari ini, untuk hasil hari esok. Proses adalah mengantar dari ketidak mungkinan menjadi mungkin, dan kuncinya adalah percaya pada kekuatan mimpi kemudian berdo'a agar Allah SWT meridhoi.
Aku faham bahwa sarjana itu tak harus Strata, aku faham bahwa pintar dan cerdas tak harus bergelar, aku faham bahwa islam tak menstandarkan pendidikan dari luar agama, aku faham semua itu. Namun sebagai calon ibu masa depan, mana mungkin aku menjadi bisu dalam mimpi dan diam pasrah dalam ketidak mampuan? Anak-anakku yang akan menjadi hasil dari kerja kerasku dalam mengeyam pendidikan. Tapi tak boleh pasrah dengan keadaan, generasiku dan suamiku akan bergantung pada kecerdasanku menjaga iman islam dan informasi yang masuk dalam rumah tangga. Mengontrol pemikiran anak-anak agar menjadi generasi emas dikemudian hari adalah aku sebagai kuncinya. Maka pendidikan haruslah matang. Aku yakin, aku bisa menaklukan Toga itu. Tiada yang tak mungkin dalam kehidupan ini. Selama islam masih dalam genggaman, Allah SWT akan mudahkan.
#WanitaAdalahKunciKesuksesanPeradaban
#AMK5
#PenulisSpesial
#PenulisIstimewa
_Oleh : Aubi Atmarini Aiza (Novelis Fikis)_
2 hari terakhir ini, banyak berseliweran foto para wisudawan yang memenuhi beranda FBku. Hal yang selalu kuimpikan sampai detik ini adalah bisa memakai Toga dikepalaku, tersenyum kearah kamera kemudian menyanding orang tuaku untuk berfoto bersama. Sudah 1 tahun lalu aku lulus, namun belum juga ada harapan untuk kuliah. Skenario Allah SWT itu selalu berbeda dan selalu menciptakan kejutan yang tak terduga. Kadang apa yang kita kejar mati-matian bukanlah jalan yang baik bagi kita. Aku sendiri sudah 2 kali gagal mengikuti SBMPTN, lantaran biaya transportasi untuk menuju panlok tempat tes dilaksanakan. Kurangnya dukungan dan pendidikan keluarga juga berpengaruh dalam hal ini. Namun semua itu masih belum melunturkan keinginan dan harapanku untuk kuliah.
Almarhum ayahku selalu menghembuskan bisikan-bisikan kuliah dimasa lalu sebelum beliau wafat. Setiap liburan semester dulu waktu SD ia sering membawaku keliling gedung-gedung UGM di jogja. Yah, ia bekerja sebagai tukang masak di warung padang di daerah Condong catur. Gedung-gedung fakultas di UGM memang terpisah tempatnya, yang ada di condong catur kalau tidak salah fakultas ilmu sosial dan hukum, sangat dekat dengan warung padang tempat bapakku kerja dulu. Terakhir tahun 2015 lalu, aku mengunjungi jogja warung padang tempat ayahku kerja sudah gulung tikar alias bangkrut. Namanya Bunga Minang, dan sekarang hanya menjadi bunga kenangan mengingat rasa masakan ayahku yang super duper enak.
Bertempatan dekat dengan daerah kampus terbaik di Indonesia, membuat ayahku memiliki banyak kenalan mahasiswa UGM, juga karena seringnya mengantar pesanan nasi padang ke gedung UGM ia memiliki kenalan beberapa Profesor dan Dosen. Aku baru tahu setelah 2 tahun ayah meninggal dari cerita ibuku, ah.... Aku merasa bahwa ayah begitu beruntung bisa mengenal orang-orang pintar disana. Ayahku juga berdagang pulsa didepan warung padangnya, usahanya memang begitu mengagumkan, hingga ia mendapati rahasia anak UGM dari seorang mahasiswa asli Sumatra yang menjadi penjual tugas bagi teman-temannya di kampus. Ia sering mengerjakan tugas teman-temannya dengan tafir yang ditentukan, biasanya yang membeli tugas padanya adalah anak-anak pejabat atau anak-anak pengusaha yang tidak niat kuliah, hanya sebagai formalitas menjadi anak seorang terpandang.
Setiap liburan itulah, ayah mengajak ibu dan aku berkeliling gedung-gedung UGM, dari fakultas ilmu sosial dan hukum, sampai ke fakultas kedokteran yang bersebrangan dengan RS Sardjioto Yogjakarta. Ugh.... Masa-masa itu tak bisa hilang untuk menjadi kenangan super manis dan romantis bersama ayah dan ibuku dimasa kanak-kanakku. Ayah selalu meniupkan profokasi untuk kuliah. "Feb.... Besok kamu kuliahnya disini(UGM) yah?" suaranya bahkan masih terngiang ditelingaku, harapannya begitu besar pada anak sulungnya ini.
Tapi nyatanya, aku malah mengecewakannya. Hari ini, aku bahkan tak bisa tembus SBMPTN dan masih bekerja di konter dengan gaji yang pas-pasan. Nilai-nilaiku sangat pas-pasan dengan rata-rata 7 dan nilai matematika dibawah standar 5. Apalah yang bisa dibanggakan dari anakmu ini ayah... Kau pergi dengan menumpuk harapan padaku yang tak bisa apa-apa ini. Cita-cita setinggi langit pun harus jatuh ketanah. Tapi aku tak bisa membiarkan begitu saja, masih banyak kesempatan dan harapan walau harus masuk di kampus swasta.
Toga yang ada di beranda FB seperti memanggil-manggil ingin ku pakai. Aku hanya ingin menjadi contoh bagi keluargaku. Dalam keluargaku memang belum ada yang berhasil memakai Toga lantaran pemikiran mereka yang cukup kolot tentang pendidikan. Aku saja diharuskan bekerja setelah lulus SMK dan menghasilkan uang banyak. Ayolah, uang adalah raja dalam sistem kapitalis ini termasuk kuliah. 75% hambatan pendidikan di negeri ini adalah uang. Tapi tentu hal itu bukan penghalang utama bagiku, yang kuyakini ini hanyalah soal waktu. Waktu yang akan mengantarkanku pada pencapaian itu.
Toga yang semua menjadi mimpi, aku yakin bukanlah mimpi abadi. Mimpi yang sekarang menjadi mimpi adalah yang akan aku tapaki nanti. Ini hanya soal waktu, bersabarlah wahai diri. Suatu hari nanti, Toga dalam mimpi akan menjadi Toga dalam kenyataan. Dan aku pasti bisa menggapainya. Dengan tekad dan usaha hari ini, untuk hasil hari esok. Proses adalah mengantar dari ketidak mungkinan menjadi mungkin, dan kuncinya adalah percaya pada kekuatan mimpi kemudian berdo'a agar Allah SWT meridhoi.
Aku faham bahwa sarjana itu tak harus Strata, aku faham bahwa pintar dan cerdas tak harus bergelar, aku faham bahwa islam tak menstandarkan pendidikan dari luar agama, aku faham semua itu. Namun sebagai calon ibu masa depan, mana mungkin aku menjadi bisu dalam mimpi dan diam pasrah dalam ketidak mampuan? Anak-anakku yang akan menjadi hasil dari kerja kerasku dalam mengeyam pendidikan. Tapi tak boleh pasrah dengan keadaan, generasiku dan suamiku akan bergantung pada kecerdasanku menjaga iman islam dan informasi yang masuk dalam rumah tangga. Mengontrol pemikiran anak-anak agar menjadi generasi emas dikemudian hari adalah aku sebagai kuncinya. Maka pendidikan haruslah matang. Aku yakin, aku bisa menaklukan Toga itu. Tiada yang tak mungkin dalam kehidupan ini. Selama islam masih dalam genggaman, Allah SWT akan mudahkan.
#WanitaAdalahKunciKesuksesanPeradaban
#AMK5
#PenulisSpesial
#PenulisIstimewa


Komentar
Posting Komentar