//Kapitalisme Telah Gagal Dan Menimbulkan Gejolak Masal//
.
_Oleh : Aubi Atmarini Aiza (Penulis Bela Islam dan Novelis)_
.
Di lansir oleh KOMPAS.com - Pasca-kerusuhan di Wamena, ribuan warga memadati kompleks Pangkalan AU Manuhiua, Detasemen Wamena, pada Rabu (25/9/2019). Hal itu dilakukan karena warga masih merasa terancam pasca-kerusuhan pada hari Senin (23/9/2019) lalu. Warga berharap dapat meninggalkan Kota Wamena, Kabupaten Jayawijaya.
Sementara itu, menurut catatan polisi, massa kerusuhan di Wamena membakar 5 perkantoran, 80 mobil, 30 motor dan 150 ruko. Hingga Selasa (24/9/2019) malam, total 28 jenazah telah ditemukan dan 70 orang luka-luka. Selain itu, sekitar 5.000 warga mengungsi di 4 titik pengungsian.
.
Kerusuhan demi kerusuhan terjadi secara berkesinambungan. Gejolak di Papua kian memprihatinkan, kasus di Wamena adalah kasus yang terjadi setelah dari 21 Agustus OPM (Organisasi Papua Merdeka) memulai aksinya kembali. Amukan segelintir kelompok perusak itu menyebabkan berbagai kerugian termasuk hilangnya 28 nyawa. Laporan terakhir pada 28 September 2019 di lansir oleh detik.com, jumlah korban jiwa bertambah menjadi 32 orang.
.
Kesaksian para korban dan sejumlah pihak tak kalah miris, bahkan ada seorang dokter yang berjasa di Papua harus meregang nyawa. Mereka harus kehilangan saudara mereka, dokter yang mereka cintai, harta, rumah dan juga fasilitas umum lainnya. Padahal hari Rabu, tanggal 21 Agustus 2019 yang dilansir oleh suara.com pak Presiden Jokowi mengklaim gejolak Papua dan Papua Barat sudah mereda,
".... Di Fakfak juga mulai terkondisikan baik semuanya," katanya. Tapi pada tanggal 4 Seprember 2019 yang di lansir oleh cnnindonesia.com Papua mulai bergejolak. Entah apa yang dimaksud 'tuntas' namun fakta kembali berbicara, bahwa gejolak Papua masih memanas. Ini pertanda bahwa ada banyak kebohongan yang terpaksa harus di tiupkan untuk mencari jalan aman daripada mengatasi secara tuntas.
.
Keterlambatan pemerintahan dalam mengatasi setiap gejolak yang terjadi nyatanya bukan hanya karena rezim atau para pelaku pemerintahannya saja, namun juga sistem yang mengatur kehidupan pemerintahan itu sendiri. Sistem Kapitalis yang telah menaungi dunia, merajai setiap aspek kehidupan, tidak hanya dianut oleh negara-negara Barat, namun juga negeri-negeri Islam dan Komunis. Kapitalisme memperlihatkan kegagalannya, menciptakan kerusakan pada peradaban yang hari ini masih membara. Kekacauan dimanapun tidak terkendali, walau penguasa mengatakan 'sudah terkondisikan'. Siapalah yang lebih jujur dari fakta yang berbicara?
.
Tahun-tahun lalu, semua rakyat percaya bahwa negeri kita telah merdeka. Semakin tahun, pendidikan semakin menyebar dengan sistem kapitalis yang bersembunyi di balik layar demokrasi. Pemimpin dan rezim kian berganti, undang-undang di revisi berkali-kali, teknologi semakin maju, gedung-gedung tinggi semakin banyak memenuhi daratan kota, mobil dan motor semakin banyak-- secara kasat mata menunjukan semakin banyak orang yang merdeka dari kemiskinan. Revolusi melengserkan mantan Presiden Soeharto, namun revolusi mental menuntut Presiden saat ini untuk menuntaskan misi revolusi yang lalu. Lalu revolusi itu membunuh penyerunya sendiri.
.
Mahasiswa adalah cendekiawan di sepanjang masa, diam bukanlah karakternya. Mereka adalah tunas bangsa yang kini moralnya telah berhasil dibuat lumpuh oleh ideologi barat, pun mereka yang bergerak tak lain hanyalah dorongan teman-temannya. Tidak semua memahami konsep aksi yang di pimpin oleh ketua mereka, tak semua memahami apa yang sebenarnya mereka bela dan apa yang harus mereka benahi. Tapi mahasiswa tetaplah harapan bangsa, kehadiran dan pergerakannya selalu didukung oleh rakyat sebab mereka berasal dari rakyat.
.
Walau begitu, ada segelintir orang yang benar-benar sudah binasah rasa kemanusiaannya. Mencari aman ditengah gejolak saudara sebangsa yang terkulai dalam lautan duka setelah bencana, setelah terkena imbas dari keserakahan kaum kapital yang egois dengan terbakarnya hutan-hutan. Mereka tak peduli! Dan yang penting saya aman, nyaman, tidak tersenggol, masih bernapas lega, tiada ketakutan seperti di Wamena, tidak ikut-ikut berorasi seperti mahasiswa yang terluka dan hilang nyawanya, yang penting saya masih punya harta untuk memenuhi kebutuhan anak, istri, dan keluarga. Begitulah kiranya dunia para penganut paham kapitalis dan fakta yang terjadi, yang tiada keadilan sama sekali di dalamnya.
.
HAM di koarkan justru melukai mereka yang tak punya dan tak dianggap. Jalan-jalan dan insfrastruktur dibangun perbulan dengan hutang yang berbunga, nyatanya tak bisa menyembunyikan fakta bahwa ada orang-orang yang menempati kolong jembatan dan hidup berteduh dibawah jalan layang. Transportasi semakin beragam dengan bantuan dan _GAME_ perdagangan Asing/Aseng, nyatanya tak merubah fakta bahwa negeri tengah di jajah. Jalanan penuh sesak mobil dan motor pun tak bisa menutupi kesengsaraan anak-anak terbuang yang mengamen di jalanan tanpa takut tersenggol atau tertabrak kendaraan. Pendidikan, kasih sayang dan rasa aman tiada bagi mereka walaupun katanya HAM memiliki itu. Namun bumi pertiwi tau betul bahwa episode-episode bangsa ini memperlihatkan kejadian yang dramatis.
.
Para petinggi negeri membusungkan dada, mengatakan bahwa semua baik-baik saja, santai dan bisa di atasi. Itu dulu, tapi sekarang mereka tak bisa membohongi rakyat yang kian merana di tengah realitas yang merenggut kepercayaan mereka akan penjajahan ekonomi dan sosial mereka. Ketika politik semakin gila dan mengecewakan para kaum intelektual dan rakyat kecil yang belum selesai dalam tangisnya, Rakyat tak lagi percaya pada penguasa.
.
Tapi mereka salah dengan menyuarakan dan memahami solusi ada pada pergantian pelaku sistem pemerintahan. Padahal yang sebenarnya terjadi adalah sistem yang menenggelamkan petinggi negeri pada kubangan kecurangan yang menggerus rasa tanggungjawab. "Entah apa yang merasukimu?" pertanyaan Milenial akan saya jawab wahai para calon penerus bangsa. Tidak lain yang merasuki mereka adalah sistem yang telah mendarah daging, mungkin tanpa sadar kalian juga telah di rasuki oleh paham itu, hingga tak bisa memahami fakta bahwa sistem adalah dalang yang merusak negeri ini.
.
Kapitalisme telah gagal dan menimbulkan gejolak masal yang berkesinambungan. Begitulah sistem rusak yang malah dipertahankan, tak lain adalah pembunuh yang sebenarnya. Maka Islam hadir sebagai solusi tunggal. Terbukti dalam sistem Islam yang bernama sistem pemerintahan Khilafah. Rakyat hidup dengan damai dan makmur. Teknologi, pendidikan, sains, militer dan kedokteran membangun peradaban, menjadi peradaban terkuat yang pernah ada di bumi ini. Menguasai 3/4 bagian dunia setelah berhasil meruntuhkan 2 peradaban besar--Persia dan Romawi. Pendidikan akhlak dimulai dari keluarga, sekolah dasar mempelajari ilmu Al-qur'an, aqidah, tauhid dan penguatan iman.
.
 Maka Ibnu Sina walaupun ia memiliki kemampuan kedokteran yang luar biasa hebat, hingga di adopsi barat sampai detik ini. Imam Al-ghazali, Al-Khawarizmi dan para ilmuan terkemuka yang menciptakan teknologi dan pendidikan yang saat ini masih menjadi dasar kehebatan peradaban barat, adalah para ilmuan yang terlahir dan tumbuh dari sistem khilafah. Agama dan kecerdasan iptek mengiringi dedikasi mereka pada khilafah, dengan bentuk ibadah bukan ajang pamer dan menyombongkan diri.
.
Lalu mengapa kita masih bertahan dalam sistem ini dan meninggalkan fakta bahwa kapitalis merusak dan harus di ganti dengan sistem yang baru? Dan Islam sebagai satu-satunya yang bisa menyelamatkan kehidupan ini. Kemudian telah terbukti dalam Islam bahwa tidak ada para koruptor, orang cerdas yang sombong, ulama penjilat, generasi brutal dan pembebek, tiada zina tanpa hukuman setimpal dan tiada penegak hukum yang berlaku biadab pada orang yang tak bersalah. Karena hukum Islam akan membuat mereka jera. Mari bersama perjuangkan Islam yang mampu selamatkan negeri. #ReturnTheKhilafah Walahu 'alam bishawab
.
#opini
#IslamSolusiNegeri
#KhilafahAjaranIslam
#RinduKhilafah
#PenulisBelaIslam

Komentar

Postingan Populer