Life Style Perselingkuhan
“Sugar Daddy", Gula-Gula Beracun Budaya Liberal
27 Maret 2021 budaya liberal, sugar daddy
Penulis: Ustaz Iwan Januar
MuslimahNews.com, KELUARGA – Ada istilah yang belakangan jadi trending: “Sugar Daddy”. Ini bukan sembarang gula, tapi sebutan untuk lelaki berumur yang pacaran dengan perempuan muda.
Wanita muda yang dipacari disebut sugar baby, dan hubungan antara si om dengan perempuan muda itu disebut sugar dating.
Beda dengan pacaran biasa, karena selain memacari, para sugar daddy ini juga membiaya hidup para sugar baby mereka. Ibarat kata, pria-pria berumur ini jadi ATM buat gadis-gadis muda itu.
Kebutuhan hidup mereka dijamin; barang bermerek, ponsel mewah, jalan-jalan ke luar negeri, bahkan ada yang dikontrakkan rumah atau apartemen.
Timbal baliknya, para sugar baby ini harus menuruti keinginan sugar daddy-nya, termasuk urusan syahwat, alias berzina. Meski ada sebagian dari sugar baby ini menolak hubungan seksual, hanya sekadar teman jalan-jalan.
Sebenarnya ini bukan fenomena baru. Tahun 80-an dan 90-an juga banyak gadis-gadis muda yang “dipiara” oleh para om. Sama seperti sugar baby hari ini, hidup mereka juga ditanggung, termasuk sampai biaya sekolah atau kuliah juga. Kalau berlanjut, para sugar baby itu dijadikan istri siri oleh para sugar daddy mereka.
Memang ada yang sedikit beda antara perempuan simpanan tempo dulu, dengan fenomena sugar baby hari ini. Di antaranya soal status.
Dulu, banyak perempuan muda yang malu-malu kalau ketahuan jadi simpanan om-om. Ini kelihatannya tidak berlaku di kalangan generasi milenial atau generasi y dan z.
Perempuan muda yang lahir di tahun ’98 ke atas, justru merasa bangga bisa jadi sugar baby. Apalagi sugar daddy mereka keren, mapan, terkenal, dan pastinya royal.
Berikutnya soal motif ekonomi, kalau dulu sebagian perempuan muda mau menjadi piaraan lelaki yang seusia bapak mereka, malah ada yang lebih tua, murni karena desakan ekonomi, butuh biaya sekolah atau kuliah.
Hari ini, perempuan yang menjadi sugar baby meskipun melakukannya sama demi uang, tapi lebih untuk gaya hidup dan hidup gaya. Punya barang branded, jalan-jalan ke luar negeri, dsb.
Lha, untuk para lelaki berumur itu, mengapa mereka jadi sugar daddy, padahal mereka sudah beristri? Apalagi tindakan macam itu berisiko untuk status sosial dan karir mereka? Sebagian besar lelaki yang menjadi sugar daddy melakukannya karena kesenangan.
Sebagaimana adagium lama, godaan para lelaki adalah harta, tahta, dan wanita. Tidak sedikit para sugar daddy itu berburu gadis-gadis muda semata karena dorongan libido seksual.
Selain itu, sebagian lelaki merasa dengan menjadi sugar daddy mengangkat prestise mereka di hadapan kawan-kawannya. Di sejumlah komunitas bapak-bapak, punya sugar baby–apalagi lebih dari satu–adalah kebanggaan. Jadi, sugar daddy semacam level pria mapan dan berani.
Sugar daddy dan sugar baby ini adalah budaya lama masyarakat liberalisme. Pada budaya masyarakat semacam itu tipis betul batas antara nilai moral dan hedonisme.
Malah yang sering jadi tujuan adalah kesenangan ragawi alias hedonisme. Lagi pula, nilai-nilai moral dalam masyarakat liberal bisa berubah dan sifatnya personal.
Apa yang dulu dianggap tabu atau aib, bisa menjadi tren di masa berikutnya. Contohnya budaya sugar-sugaran ini, malah jadi kebanggaan sebagian orang.
Maraknya budaya sugar daddy berawal dari pudarnya nilai keislaman, digantikan sekularisme. Tak ada lagi yang memandang ikatan pernikahan itu sakral, mitsaqon ghalidza, bahwa istri adalah amanah dan perempuan yang halal digauli.
Bagi para lelaki yang sudah memuja sekularisme, pahala dan dosa itu urusan privat. Dia dengan Allah. Sedangkan urusan asmara dan seksualitas dengan istri atau dengan para sugar baby itu lain lagi. Tidak ada korelasinya dengan hukum Allah.
Kalau Tuhan saja sudah dicampakkan, apalagi istri dan anak.
Begitu pula para perempuan yang mau menjadi sugar baby, dalam pikiran mereka soal agama, pahala dan dosa kalah penting dengan tas merek Hermes, iPhone X, atau jalan-jalan ke Dubai.
Mereka juga tak mau berpikir kalau om-om yang jadi sugar daddy-nya ditunggu anak dan istrinya di rumah.
Budaya sugar baby dan sugar daddy ini ibarat gula beracun sistem liberalisme. Merusak tatanan sosial masyarakat dan menghancurkan banyak pernikahan.
Lebih jauh lagi, para lelaki yang menjadi sugar daddy itu akan terdorong untuk melakukan korupsi atau mengumpulkan harta secara ilegal untuk mengongkosi para sugar baby-nya.
Banyak pengusaha dan pejabat yang tertangkap KPK terbukti kemudian memiliki perempuan simpanan. Ironisnya, banyak lelaki rela keluar uang lebih banyak untuk membiayai sugar baby-nya ketimbang untuk anak dan istrinya.
Sugar daddy dan sugar baby ini sepertinya tidak akan habis, bahkan akan cenderung bertambah, dan bukan akhirnya dipandang “normal”, selama masyarakat masih berada dalam peradaban sekularisme-liberalisme.
Peluang untuk terjadinya perselingkuhan, perzinaan, dan prostitusi terus terbuka. Liberalisme itu melahirkan pola supply and demand. Kalau permintaan terhadap sugar baby-nya masih ada, maka penawarannya akan terus ada.
Memutus Rantai Liberal dengan Islam
Tak ada yang bisa memutus mata rantai budaya beracun ini kecuali dengan Islam. Ketika iman dan takwa menjadi pegangan masyarakat, orang tak akan berani membuka tutup yang belum dihalalkan syariat.
Ingatlah kisah tiga orang yang terkurung dalam gua, lalu mereka bertawasul pada Allah dengan amal saleh masing-masing. Salah satunya pernah memperdaya seorang gadis untuk direnggut kehormatannya setelah ia memberi uang yang dibutuhkan perempuan itu sebagai biaya berobat ayahnya.
Namun, ketika lelaki itu sudah berada di atas tubuh wanita itu, perempuan itu berkata,
لاَ أُحِلُّ لَكَ أَنْ تَفُضَّ الْخَاتَمَ إِلاَّ بِحَقِّهِ
“Tidak halal bagimu membuka cincin kecuali dengan cara yang benar (maksudnya: barulah halal dengan nikah, bukan zina).” (HR Bukhari)
Lelaki itu pun terkejut lalu berlari meninggalkan perempuan itu dan merelakan uangnya karena Allah.
Perilaku amoral dan asusila, termasuk perzinaan akan tertutup manakala masyarakat sadar kalau hubungan mereka dengan lawan jenis harus dibangun karena iman dan takwa.
Lalu mereka sadar bahwa pernikahan adalah satu-satunya jalan yang dihalalkan Allah untuk berkumpul dengan lawan jenis, dan mendapatkan pemenuhan kebutuhan biologis.
Meskipun ada peluang untuk melakukannya, tapi rasa takutnya pada Allah akan mencegah lelaki ataupun wanita merusak kehormatannya.
Peluang perselingkuhan dan perzinaan juga akan tertutup ketika ada sanksi keras yang dijatuhkan pada pelakunya. Dalam Islam ada sanksi jilid/cambuk bagi pelaku zina ghair muhshon/belum menikah.
Ada sanksi rajam hingga mati bagi pelaku zina muhshon/telah menikah. Sanksi yang keras ini efektif sebagai preventif/zawajir terjadinya perbuatan zina.
Maka, tak ada tempat dan tak akan berkembang perilaku amoral menjijikkan seperti fenomena sugar daddy ini.
Masyarakat akan berpartisipasi mencegahnya, dan negara akan melakukan pengawasan dan pemberian sanksi bagi para pelakunya.
Semua untuk mencegah kerusakan yang lebih besar lagi. Sabda Nabi Saw.,
إِذَا ظَهَرَ الزِّنَا وَالرِّبَا فِيْ قَرْيَةٍ، فَقَدْ أَحَلُّوْا بِأَنْفُسِهِمْ عَذَابَ اللهِ
“Jika zina dan riba sudah menyebar di suatu kampung maka sesungguhnya mereka telah menghalalkan azab Allah atas diri mereka sendiri.” (HR al-Hakim, al-Baihaqi dan ath-Thabrani. [MNews/Juan].
________________________________
Gimana Guys? Udah baca materinya? Kalau sudah Aubi mulai cerita yes...
Pertama-tama Aubi mau cerita mengapa judul novel ini Aubi ganti jadi BUKAN SUGAR DADDY?
Jawabannya karena setelah baca materi di atas Aubi jadi merasa bertanggung jawab atas apa yang pembaca tangkap. Pembaca Aubi yang lebih dari 100an setiap partnya, Aubi memang harus bertanggung jawab meluruskan. Sehingga langkah pertama Aubi ganti judulnya, kedua Aubi bener-bener meletakkan nilai kehidupan dari sudut pandang Islam di dalam setiap partnya. Aubi gak pengen aja temen-temen terhibur dengan novel ini tetapi gak dapet apa-apa setelah cerita ini selesai.
Cerita ini dibuat dengan tagar 'agegap' singkatnya kisah cinta ini menceritakan ttg kisah cinta sepasang kekasih halal yang jarak/gap usianya beda jauuuuuh! Tentu saja persepsi orang beda-beda, pasti itu. Termasuk gimana menangkap cerita ini, ini umumnya...secara umum yah! Kalau udah baca cerita dimana ada gadis muda usia 20an dan pria mateng banget alias 35an ke atas, kebanyakan mikir 'sugar daddy and sugar baby'. Kenapa? Yah karena udah umumnya gitu jadi terbawa kita sama pemikiran tersebut.
Nah ternyata sugar daddy and sugar baby emang udah jadi life style Guys, di Masyarakat. Semua itu didukung dengan banyak banget cerita novel, cerpen, cerbung dan apapun itu bahkan film, video and drama, ikut menjadi media yang tidak menjadikan life style sugar dating sebagai hal yang salah, malah dibela atas nama kebebasan. Kebebasan itu tentu aja ada, dan semua orang berhak, tapi gak kemudian kebebasan itu buat kita bebas nyakitin orang.
Saya cuma miris aja liat gimana novel-novel adult yang isinya tentang selingkuh, sex, pergualan bebas, dan banyak lagi menjadi peringkat teratas dalam setiap aplikasi novel, gak cuma novel komik, film dan drama pun sama. Dan tentang sugar daddy, dia jelas pria beristri, punya anak.
Kalau duda gak masalah kayak Akang Devan, terus dianya juga gak ada unsur memacari dan mengajak si gadis untuk maksiat, ini mungkin tertolong krn salah satu dari mereka emang ngejaga kehormatan serta rasa malunya, dia juga ngejaga pikiran dan hati. Andai keduanya sama-sama gak paham agama, gak punya tambatan pemikiran, gak ngejaga sikap, sopan santun dan pakai pikiran bebas. Apakah mereka akan bertahan tanpa sex sampai akhir? Minimal gak pelukan dah! Ada? Oh mohon maaf, milenials! Jangan terlalu polos, oke? Boleh gak ngerti tentang hal-hal dewasa, tapi jangan tutup mata tentang urusan pergaulan, ini bahaya kamu bisa dikelabui orang yang gak bersih pikirannya.
Back to topic, tetang sugar daddy. Tentu perilaku ini didasari napsu, ye kan? Soalnya mereka gak pake otak pas ngelakuin pacaran-pacaran dengan selain istrinya. Sugar baby juga gak mikirin gimana si istri dan 'om-om' itu nunggu dia pulang ke rumah. Hal itu saya kira hanya ada di sinetron. Tapi ini nyata terjadi di depan mata kita.
Perselingkuhan antara kakak ipar dan adik ipar, ayah mertua sana mantu, ibu sama anak dan masih banyak lagi bahkan orang yang sedarah spt kakak adik dan orang tua and anak.
Na'udzubillah min dzalik!
Orang terdekat aja bisa gitu Guys! Aubi pingin temen-temen yang suka baca novel sugar2an, terserah gak papa. Tapi tolong tetep pada titik yang bener, yang bener yah bilang bener, jangan membenarkan yang salah, apalagi terinspirasi melakukan hal-hal seperti novel sugar2an itu.
Jaga, jangan ada pihak yang tersakiti atas kesukaan kita, jangan cari cowok beristri. Aubi emang gak setuju dg konsep pacaran, tapi please orang yang udah selingkuh ketika dia pacaran, biasanya akan lebih mudah bagi dia buat selingkuh setelah menikah. Serius! Please, kalo cowok yang you suka adalah orang yang berstatus pasangan orang lain atau bahkan saudara perempuan you, or sebaliknya, please cari yang lain, cari orang yang bener-bener bukan milik orang lain.
Kita perempuan, istri or kekasih dia perempuan juga, harusnya kita jauh lebih tau perasaan si pasangan doi daripada doi? Juga sebaliknya, kasusnya sama jika anda adalah cowok. Please! Anda manusia bukan hewan yang main embat punya orang. Jangan kanibal, sampe makan punya saudara or sesama perempuan lain.
Lu lagi makan, ada yang nyerobot makanan lu, lu pasti marah. Apalagi ini udah kaitannya dengan jiwa sama raga! Please, jaga hak orang lain, kalau anda masih waras!
Huft! Aubi cerita gini buat pelajaran diri pribadi juga kita semua, agar pikiran kita tertata memandang dunia. Please, jadilah manusia sebenarnya. Jangan bersikap seperti hewan kalau gak mau dianggap hewan, jangan bersikap seperti jalang kalau kamu masih punya kehormatan dan rasa malu.
Salah-salah kata, Aubi minta maaf. Bena-benar kata semua datangnya dari Sang Maha Benar. Mohon maaf and sampai jumpa di part selanjutnya sebelum ending. Bye bye!😘


Komentar
Posting Komentar